Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mandok Hata Di Tahun Baru Tradisi Tak Berguna

 

Mandok hata tidak berguna.
Membuang tradisi mandok hata 

Ada sebuah tradisi Batak yang biasa dilakukan oleh orang Batak khususnya yang beragama kristen. Pada malam tahun baru dilakukan  merayakan kumpul bersama keluarga besar dirumah biasanya dirumah orang Tua. Atau kalau sudah tidak ada lagi orang tua, biasa memilih dirumah yang di tuakan. Ini adalah tradisi. Dibuat seolah sakral tapi dibalik itu bisa jadi kisah menyedihkan dimulai. . Tepat pada saat pergantian tahun. Pada jam 00.00 acara dimulai. Mulai dari kebaktian sampai acara sekapur sirih ( mandok Hata). Dalam acara inilah setiap orang yang berkumpul diwajibkan mandok Hata sekaligus sebagai pengadilan di tahun baru.


Kenapa saya katakan Pengadilan Tahun baru? Di acara pergantian tahun ini semua yang berkumpul diwajibkan menyampaikan sekapur sirih/ acara mandok hata. Dimulai dari yang termuda sampai yang tertua. . Kalau ia orang tua, ia mengambil posisi penasihat sekaligus hakim yang mengadili. Orang tua menasihati anak-anak. Kalau sebagai anak, menyampaikan kata maaf, pengakuan akan kesalahan. Tapi ada pula yang mengungkit segala macam kesalahan seolah tidak pernah bersalah.. 


Bagi yang merasa dirinya bersalah akan merasa tertekan dengan rasa malu. Bagi yang merasa paling benar, kesempatan baginya untuk menceramahi dan menghakimi begini begitu. Ada semacam beban yang ditularkan dalam moment ini. Momok yang menakutkan akan tampak saat  ada yang merasa hakim eksekusi. Kalau ada yang dibenci,,,, merasa boss lah semangat melampiaskan kegeraman. Jangan salah yang paling bahagia di momen ini yaitu orang yang sudah mengumpulkan amunisinya untuk sok menasehati.  Ada semacam animo menantikan jam 00, sebab di jam itulah dimulai persidangan yang disebut dengan sidang tahun baru.

Dalam Pandangan saya ini bukanlah hal yang membangun.. Walau ada tradisi ibadah yang memang ala tradisi, tidak berarti itu membangun iman. Hanya semacam formalitas dari gereja yang diulang ulang. Paulus menulis kelihatannya penuh kerendahan hati. Tetapi kerendahan hati yang palsu.. 


Di Mulai dengan Ibadah tradisi, tetapi tidak melahirkan hati yang damai dan tentram. Sebab setelah ibadah berlangsung yang hanya formalitas dan setelahnya siap menghakimi yang dianggap bersalah, kurang baik apalagi jika tak berkenan di hatinya. 


Ini pengalaman saya pada situasi penghakiman malam. Tahun baru. 

Masuk tahun 2018, saya benar-benar berada dalam pengalaman pahit itu. Pergantian tahun itu yang kita rancangkan semua biasa tetapi berujung menyakitkan hati, menimbulkan trauma yang dalam sampai menusuk ke dalam jiwa saya. Saya benar-benar diadili malam itu, membuat saya benar-benar sakit hati dan terluka. 


Padahal malam itu kami melakukan sesuatu dengan baik karena tujuan saya dan  suami ikut kumpul saat itu karena menghargai keluarga saya yang kebenaran saudara kandung sendiri sekaligus ingin membangun hubungan yang lebih akrab. Tidak ada filing apa-apa. Tapi tak terduga semua tak seperti yang aku rancangkan dan pikirkan. Dan jika sekiranya di tahun sebelumnya ada masalah yang menimbulkan sakit niat saya supaya menjadi suatu wadah untuk saling bermaaf-maafan. Bukan untuk membangun jurang pemisah yang dalam. 


Ternyata dibalik semua apa yang kami lakukan terdapat hati yang tidak pernah tulus iklas menerima kami.  Apa yang kami buat yang sudah sangat sesuai kemampuan kami tidak mendapat respek yang baik.. Walau terlihat seperti menerima ternyata tidak. Dan kesalahan saya kenapa saya tidak bisa peka melihat keadaan itu sebelum penghakiman itu tiba.  Malam itu, tanpa ada rasa apa apa yang mengganjal seperti semua normal.. 

Tepat di malam tahun  baru jam 00 kita bangun melaksanakan tradisi itu. Tiba bagian mandok hata, Tuan rumah mengeluarkan kata-kata yang hari itu juga ingin saya keluar dari rumah itu. Kata kata yang diucapkan itu sangat tidak bisa aku Terima dan tidak Dapat ku toleransi sampai kapanpun. Saya ingatkan pada diriku,,, Aku bukan siapa-siapa bagi dia. Itulah Vonis yang dijatuhkan padaku malam itu. 


Sejak adanya pengadilan di tahun baru itu saya memutuskan untuk tidak lagi mau kumpul bersama dengan mereka. Saya tidak memutus hubungan keluarga tapi saya sadarkan diri, Saya bukan siapa - siapanya. Saya dianggap tidak siapa-siapanya lagi  jadi tidak ada kewajiban untuk berkumpul. Jika saya dianggap penjahat hanya karena perbedaan pandangan dan tidak mau sesuai keinginannya, Biarkanlah.. 


Padahal sore-sore menjelang pergantian tahun itu kami sama-sama mempersiapkan makan-makan untuk santapan malam hari. Sungguh tidak menyangka bahwa malam yang kami harapkan membawa keindahan dan harapan kebaikan akan menjadi jurang pemisah.


Alhasil di tahun-tahun selanjutnya, saya berusaha menghindar jangan sampai duduk bersama dalam tradisi yang bagi saya menjadi perusak segalanya. Saya sudah melihat bukan kedekatan yang menuju kebahagiaan yang saya dapat, malah menjadi gejolak yang menimbulkan efek jera.

Dampak dan respon setiap Malam. Tahun baru

Pada tahun 2019 memasuki tahun 2020 saya  bersama kakak perempuan saya meniadakan tradisi mandok Hata tersebut. Bercermin dari pengalaman yang sudah - sudah, cukup lah pengalaman menyakitkan sekali itu saja. Tidak mau mengulang kejadian kepada saudaraku yang lain. Apalagi jika ada konflik sebelumnya sangat rentan kembali saling menyakiti.  Saya tidak ingin pertemuan yang jarang - jarang terjadi dirusak oleh tradisi yang tidak jelas asal usulnya. Bagi saya, duduk bersama dengan saudara dan kerabatku sudah cukup menghantarkan kebahagian dimasa mendatang. 


Tidak perlu buat ibadah penuh kepalsuan tapi tujuannya membuat jurang pemisah.  Dengan duduk bercengkrama sambil makan terukir kebahagiaan. Tak perlu pura pura ibadah tapi dalam hati beringas mau menuntut sesuatu. 

Di tahun itu terasa ada kemerdekaan. Kami yang ada di rumah saat itu sukacita sambil merayakan ulang tahun dan makan makan kue.  Kami merasakan kedekatan dengan saudara saudara yang hadir pada saat itu. 

Sebelum acara pergantian tahun tiba, saya sudah sampaikan kepada kakak perempuan saya, tidak ada sesi mandok Hata. Dan ia pun menyetujui. Keluarga dari pihak saya dan pihak suami yang sama-sama merayakan tahun baru bersama juga tidak ada komentar ini itu. Memang karena tujuan kami berkumpul ingin bersukacita dan bergembira bahagia, maka segala hal yang membuat kami menjadi terbebani kami tiadakan.


Kami semua yang kumpul malam itu tidak ada yang merasa diadili, tidak ada yang berasa disidang, tidak ada yang merasa dipersalahkan. Kami benar-benar bahagia malam itu. Mengapa saya menuliskan pengalaman ini sebagai pengadilan tahun baru? 

Seseorang yang sedang di investigasi dan di interogasi itu menyakitkan. Dan sebenarnya tidak semua orang yang terikat dengan tradisi ini merasakan kebahagiaan walaupun tujuannya kumpul bersama keluarga.. Hal ini saya rasakan sendiri dari dulu. Mungkin hal yang sama dirasakan juga oleh sebagian orang. Terbukti, banyak postingan yang harap cemas saat momen mandok Hata. Kalau bisa dilewatkan, ya dilewatkan saja.


Tapi karena tradisi ini sudah mendarah daging walaupun sebenarnya menurut saya tidak berfaedah, tetap saja dipertahankan. Saya sendiri orang yang mencetuskan tidak mau melakukan tradisi ini. Saya keluar dari tradisi ini.. Tradisi ini membuktikan tidak berguna dilakukan karena sering membuat jurang pemisah, hati menjadi sakit. Bagaimanapun pengadilan itu tidak enak. Kami bisa tertawa lepas bahagia ketika kami sepakat membuang tradisi itu. Apakah mengadili orang lebih besar manfaatnya dari pada membuat orang tertawa bahagia?


Nyatanya, tradisi mandok Hata itu meninggalkan beban yang mendalam. Sepertinya acara yang demikian dirancang untuk menyampaikan daftar kesalahan yang telah dicatat selama setahun bahkan lebih. Pada saat acara tutup tahun itulah menjadi kesempatan pelampiasan segala kekesalan.


Ini berbanding terbalik dengan yang dicatat dalam Alkitab yang berbicara tentang pengampunan. Seharusnya dalam acara tutup tahun itu, tujuannya bersyukur dan bersukacita karena didalam tahun itu kita telah merasakan kasih Tuhan dan kita boleh lewatkan ahun itu karena kasih Tuhan.



Post a Comment for "Mandok Hata Di Tahun Baru Tradisi Tak Berguna "